Desain website juga harus memperhatikan kebudayaan lho…

Eits… kata siapa ngedesain website cuma perlu memikirkan sisi artistiknya saja. Kalau Anda berpikir seperti itu, Anda salah total! Kenyataannya ada banyak sekali aspek yang harus diperhatikan dalam mendesain sebuah halaman web. Mulai dari sisi usability-nya, consumer behaviour-nya, waktu penggunaannya dan lain sebagainya. Satu sisi yang ingin saya bahas lebih detail disini adalah sisi kultural alias sisi kebudayaan.

Lho? apa hubungannya kebudayaan sama web desain? Tentu ada hubungannya. Kenyataannya, beda kebudayaan beda pula persepsi orang pada tampilan sebuah website. Contoh paling mudah adalah mengenai arah tulisan. Secara global, arah tulisan itu kan biasa dibaca dari kiri ke kanan. Tapi pada kebudayaan arab, arah tulisan itu dari kanan ke kiri. Perbedaan ini akan memberikan pengaruh tersendiri pada pengunjung website kita. Jika sang pengunjung tidak terbiasa dengan arah tulisan tersebut misalnya. Maka kedepannya, website kita tidak akan lagi dikunjungi oleh pengunjung tersebut.

Contoh lainnya sebenarnya banyak. Misal, persepsi masing-masing budaya terhadap warna itu berbeda-beda. Warna merah di Spanyol bisa diartikulasikan secara berbeda dengan warna merah di negeri Cina. Penggunaan animasi juga berbeda-beda pandangannya pada setiap lokasi/kebudayaan.

Saya menemukan sebuah makalah online yang membahas mengenai hal ini (itu makanya saya nulis tentang bginian ^^). Kalau ingin baca papernya silahkan klik disini. Paper itu merupakan hasil riset dari para penulisnya tentang behaviour yang dimiliki oleh web desainer dari Singapura dan Australia. Sang penulis membagi dua tipe user dalam sisi penerimaan mereka terhadap desain web, yaitu: Kolektivis dan Individualis. User kolektivis adalah user yang menyukai tampilan web yang standar-standar saja. Sama seperti kebanyakan web yang ada saat ini. Sementara individualis lebih menginginkan tampilan website yang bisa mereka kontrol sendiri untuk melakukan kustomisasi dan personalisasi. Pada paper tersebut disebutkan bahwa web desainer dari Singapura merupakan representasi user kolektivis sementara web desainer Australia merupakan representasi user individualis. Inilah tabel hasil risetnya. Silahkan dibaca :)

Karakteristik

Sikap pengembang web

Singapura

Australia

Penggunaan warna

Menggunakan skema warna tertentu (tergantung pilihan perusahaan)

Perusahaan tidak mempedulikan preferensi warna

Representasi gambar

Logo perusahaan sangat penting

Prestise perusahaan lebih penting daripada sekedar logo

Penggunaan simbol

Tidak ada skema tertentu

Tidak ada skema tertentu

Penggunaan animasi

Elemen penting

Elemen yang tidak terlalu penting

Penggunaan gambar

Sangat sering dipakai

Lebih banyak menggunakan teks

Fungsionalitas website

Pelanggan bukan pertimbangan utama

Reaksi pelanggan berpengaruh besar bagi desain

Jadi, intinya… kalau mau mendesain sebuah website, apalagi websitenya bersifat global. Coba buat banyak tampilan yang bisa terkustomisasi untuk masing-masing wilayah dengan kebudayaannya masing-masing.

Share/Save/Bookmark

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

This entry was posted on Friday, November 21st, 2008 at 4:54 pm and is filed under web trick. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Desain website juga harus memperhatikan kebudayaan lho…”

  1. Desain website juga harus memperhatikan kebudayaan lho… « Mustafa Kamal Says:

    [...] Baca lebih lanjut di: UnivindBlog - Desain website juga harus memperhatikan kebudayaan lho… [...]

  2. suamimalas Says:

    saya pernah baca buku soal ini nih…cuma buku apa yah?

  3. kamal Says:

    buku apa tuh? emang ada buku yg ngebahss bginian? kayaknya gak ada deh

Leave a Reply